A. Pengertian dan Urgensi Media dalam Pengajaran Bahasa Arab.
Media berasal dari bahasa latin : “Medius” yang berarti “tengah”. Dan secara umum media adalah semua bentuk perantara untuk menyebar, membawa atau menyampaikan suatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima atau para siswa-i. Secara luas media diartikan dengan : “setiap orang, bahan, alat atau kejadian yang dapat mambantu para siswa-i untuk lebih mudah memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sehingga guru, buku teks dan lingkungan sekolah disebut juga dengan media”.[1]
Menurut sejarah, media pertama kali disebut dengan visual education (alat peraga pandang) kemudian berubah menjadi Audio-visual aids (bahan pengajaran) kemudian berubah menjadi Audio-visual communication (komunikasi pandang dengar), yang selanjutnya berubah menjadi Educational Technology (teknologi pendidikan atau teknologi pengajaran).
Didalam bahasa arab media pengajaran disebut dengan “wasa’ilul idhoh, Al-Wasa’ilut Taudhih, atau Al-Mu’ayyimaatus Sima’iyah Wal Bashoriyah”. Atau alat pandang dan dengar.
Media pengajaran merupakan perpaduan antara hardware (peragkat keras) dansoftware perangkat lunak). Yang menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan di Amerika, media dibatasi sebagai segala hal dan bentuk yang digunakan seseorang untuk menyampaikan suatu pesan atua informasi.
Urgensi media dalam pengajaran bahasa adalah :
a. Berdasarkan pendapat Soenjoyo Dirjo Soemarto, bahwasanya totalitas presentase banyaknya ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang yang terbanyak dan tertiggi adalah melalui indra penglihatan dan pengalaman langsung atau praktek, baru kemudian indra pendengaran dan indra lainnya.[2]
b. Menurut John M. Lannon, fungsi dari media dalam pengajaran bahasa arab adalah :
1. Untuk menarik minat siswa.
2. Untuk Meningkatkan pengertian siswa.
3. Untuk Memberikan data yang kuat atau terpercaya.
4. Untuk Memadatkan informasi.
5. Untuk Memudahkan menafsirkan data.
c. Menurut Mudjiono, media pengajaran mampu membangkitkan motivasi belajar serta memberikan stimulus bagi kemauan belajar, karena media pengajaran berpengaruh besar dalam memberikan kesan bagi siswa-i melalui indra penglihatan siswa-i dan lebih memudahkan pemahaman siswa-i.[3]
d. Menurut Dr. Abdul ‘Alim Ibrahim, Media pengajaran sangatlah penting, karena dapat membangkitkan rasa senang dan gembira para siswa-i serta mampu memperbaharui semangat belajar siswa-i, sehingga dapat menyebabkan rasa senang untuk datang ke sekolah dan dapat memantapkan pengetahuan di benak para siswa-i serta dapat menghidupkan suasana kegiatan belajar mengajar.[4]
e. Menurut Arif, secara umum media pembelajaran berfungsi sebagai :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik atau dalam bentuk kata tertulis dan lisan saja.
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera. Seperti : Obyek terlalu besar, obyek terlalu kecil, gerak terlalu lambat, gerak terlalu cepat, kejadian dimasa lampau dan obyek yang kompleks.
3. Dapat mengatasi sifat pasif siswa-i secara tepat dan variatif, karena terdapat interaksi langsung antara siswa-i dan media.[5]
Klasifikasi media pembelajaran bahasa adalah:
B. Media Permainan dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Salah satu media yang dapat digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah media permainan. Pengertian dari permainan adalah :
a. Permainan berasal dari kata “main” yang berarti perbuatan untuk menyenangkan hati dan dilakukan dengan menggunakan ala-alat yang disukai atau dengan media tertentu.
b. Suatu bentuk kegiatan yang melibatkan interaksi para pemain secara penuh dengan mengikuti aturan-aturan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. Dan permainan dapat menjadi sumber belajar jika permainan tersebut bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan atau pembelajaran.
c. Menurut Piageat, bermain adalah manifestasi penyesuaian salah satu dasar proses mental menuju pada pertumbuhan intelektual, dan bermain adalah mekanisme penyesuaian yang penting bagi perkembangan atau pertumbuhan manusia.
d. Menurut Sudirman, Permainan sebagai media pembelajaran mempunyai beberapa kelebihan, yaitu : Sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, menghibur dan menarik. Dengan permainan, maka akan ada partisipasi aktif dari para siswa-i dalam proses belajar mengajar. Karena permainan mampu memberikan umpan balik langsung dalam memecahkan masalah-masalah nyata atau sebagai proses pemberian pengalaman nyata yang dapat diulang sesuai kehendak.[6]
Pengertian dari permainan bahasa menurut Soeparno adalah : aktifitas yang dilakukan untuk memperoleh keterampilan berbahasa terntentu dengan cara yang menyenangkan.[7]
Menurut G. Gibbs, permainan bahasa adalah : suatu kegiatan yang didalamnya ada kegiatan saling membantu dalam persaingan antar pemain untuk mencapai tujan yang telah ditentukan dengan aturan-aturan tertentu.
Peran media permainan tidak kalah pentingnya dengan peran kompetensi guru yang memadai dalam proses belajar mengajar. Karena media permainan dapat memberikan peluang yang lebih dalam memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang mengabaikan media permainan sebagai penunjang keberhasilan pembelajaran.
Tujuan dari permainan bahasa adalah : untuk memperoleh kegembiraan dan untuk melatih keterampilan berbahasa tertentu. Namun bukan ditujukan untuk mengukur atau mengevaluasi hasil belajar siswa-i. Karena permainan bahasa digunakan sebagai langkah pendekatan dalam pembelajaran untuk mempermudah pencapaian tujuan dari pembelajaran bahasa tersebut.
Manfaat permaian bahasa dalam kegiatan pembelajaran menurut Nasif Mustofa adalah :
1. Memupuk jiwa persaingan yang sehat, atau saling mengunguli satu sama lain.
2. Mendorong pembelajaran untuk menyaksikan dan ikut serta dalam berbagai permainan.
3. Memotivasi diri untuk tampil dengan sebaik-baiknya.
4. Belajar untuk bekerjasama dalam suatu pekerjaan, atau mencapai sebuah kemenangan.
Beberapa hal yang hendaknya diperhatikan dalam permainan bahasa adalah :
1. Permainan bahasa bersifat sebagai sarana pembantu dalam pengajaran dan bukan suatu tujuan dalam rangkaian materi pelajaran bahasa arab.
2. Merubah paradigma yang beranggapan bahwasanya permainan bahasa hanya sesuai untuk usia anak-anak. Karena permainan alam pembelajaran bahasa arab dapat diterapkan untuk tingkatan usia muda, dewasa ataupun tua.
3. Tujuan permainan bahasa tidak terbatas untuk sekedar menghilangkan kejenuhan dan kelelahan dalam kegiatan pembelajaran bahasa arab, namun permainan tersebut berguna untuk menyempurnakan materi bahasa arab yang diajarkan.
4. Saat menentukan permainan bahasa, hendaknya memperhatikan istilah bahasa yang diajarkan, tatacara pelaksanaan permainan, dsb.
Menurut Nasif Mustofa, beberapa prinsip umum dalam permainan bahasa adalah :
1. Permainan bahasa merupakan kegiatan yang penuh dengan kerjasama.
2. Permainan bahasa bertujuan untuk memotivasi pembelajaran dalam menggunakan bahasa dengan tujuan sebagai alat komunikasi.
3. Permainan bahasa menjadikan lebih jelas pengetahuan dan ide-ide yang ada diantara para pemain.
Cara memilih permainan bahasa adalah sebagai berikut :
1. Pengajar harus menentukan topik permainan yang jelas untuk sebuah materi, sehingga alur permainan jelas dan sesuai dengan materi pelajaran bahasa arab.
2. Permainan bahasa harus disesuaikan dengan tingkatan pengajaran, kemampuan peserta didik, waktu dan tempat pelaksanaan permainan.
3. Siswa-i harus berada dalam keadaan aman dan tidak menimbulkan penyimpangan.
4. Harus memperhatikan keterampilan berbahasa, unsur-unsur bahasa dan model bahasa agar pelaksanaan latihan bahasa melalui media permainan menjadi sempurna.
5. Persiapan sebelum permainan dilakukan untuk permaiann yang membutuhkan persiapan khusus.
6. Sebelum pelaksanaan permainan harus dipastikan seluruh siswa-i telah memahami teknisi pelaksanaan lomba.
C. Macam-macam Permainan Bahasa
Pembagian macam-macam permainan bahasa disesuaikan dengan kompetensi berbahasa arab yang seharusnya dikuasai oleh siswai-i, yaitu mencakup :
1. Permainan bahasa untuk keterampilan menyimak (Istima’)
Menyimak bersifat pasif-reseptif dengan maksud : inisiatif untuk dapat berkomunikasi dengan berbahasa arab bukan berasal dari dirinya, melainkan dari orang lain yang sikap dan tindakannya diharapkan oleh pendengar untuk diperhatikan dengan seksama sehingga dapat dipahami maksudnya dan dapat diikuti struktur kalimatnya. Bahasa lisan yang dapat dipahami dapat berjenis : bunyi bahasa, fonem, suku kata, kata-kata lepas, frasa, kalimat dan wacana yang utuh dan lengkap. Karena tujuan utama dari kecakapan menyimak adalah : untuk dapat memahami bahasa lisan. Media permainan yang dapat dimanfaatkan antara lain :
a. Bisik berantai (Al-Asrar al-Mutasalsil)
Permainan ini terdiri dari dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 6-7 siswa-i, guru membisikkan kosakata atau kalimat kepada siswa paling depan untuk selanjutnya dibisikkan kepada teman setelahnya dan peserta yang dapat menyelesaikan tugas tercepat dengan jawaban benar adalah pemenang permainan tersebut. Contoh kalimat :
- الصورة كبيرة – السورة كبيرة
- يبكى أحمد بكاء شديدا – هو يضحك ضحكة عريضة
b. Istima’ al-aghani
Guru menyiapkan kaset lagu berbahasa arab fusha dan teks syair yang tidak lengkap, kemudian guru memutarkan kaset dan meminta siswa-i untuk melengkapi teks syair tersebut dan pelajaran diakhiri dengan pembenaran cara penulisan siswa-i.
2. Permainan bahasa untuk keterampilan berbicara (Kalam)
Hal yang diprioritaskan dalam kecakapan berbicara adalah berkenaan dengan isi dan makna yang terkandung dalam sebuah pesan secara lisan. Maksud dari kemampuan berbicara adalah : kemampuan berkomunikasi secraa akurat dan efektif dalam penggunaan bahasa secara konteks. Sehingga tujuan utama pembelajaran keterampilan berbicara adalah : mampu menggunakan bahasa secara lisan. Media permainan yang dapat dimanfaatkan antara lain :
a. Mengapa saya melakukan pekerjaan ini (Limadza a’miltu hadza)
Guru menyiapkan kartu yang berisi pertanyaan “Limadza”, kemudian salah satu siswa diminta memegang kartu dan membacanya kemudian menjawab pertanyaan tersebut. Jila jawabanannya benar, maka siswa tersebut dapat mengammbil kartu selanjutnya dan bertanya kepada teman yang dia tunjuk. Contoh :
- يأخذ الطّالب البطاقة : - أنا أكتب الرّسالة – لماذا ؟
- لطلب الإستئذان
- لإعطاء الخبر
- لمعرفة الحالة (الإجابة)
b. Ta’bir Mushawwar
Guru menyiapkan gambar dengan tema tertentu, gambar ditempelkan dipapan tulis kemudian guru menjelaskan alur cerita dari gambar tersebut, kemudian guru meminta salah satu siswa untuk menceritakan kembali alur cerita yang telah diceritakan oleh guru dan meminta siswa lain untuk memperhatikan penjelasan temannya.
3. Permainan bahasa untuk keterampilan membaca (Qiro’ah)
Menyimak pada dasarnya bersifat representatif, karena diawali dengan pemahaman terhadap informasi yang tertulis. Sehingga pembaca sebagai penerima dapat memahami dengan seksama teks yang ia baca. Adapun tujuan dari kecakapan membaca adalah : siswa-i mampu memahami teks bacaan yang telah dibaca dan pelajari. Media permainan yang dapat dimanfaatkan antara lain :
a. Merapikan teks bacaan (Tartib al-Nash)
Siswa-i dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, setiap kelompok diberi potongan teks yang acak untuk disuusn menjadi jawaban yang sempurna.
b. Antonim (Al-Mudhod)
Guru menulis sebuah kata dikartu kemudian menunjuk salah satu murid untuk mengambil kartu dan menyebutkan lawan kata atau antonim kata tersebut. Jika siswa tidak dapat menjawab, maka soal itu dilempar kepada siswa lain, jika siswa kedua dapat menyebutkan antonim kata tersebut maka ia berhak menentukan hukuman bagi siswa yang tidak dapat menyebutkan antonim kata tersebut.
4. Permainan bahasa untuk keterampilan menulis (Kitabah)
Dalam pengungkapan diri secara tertulis, seorang siswa mempunyai kesempatan untuk mengatur bahasa serta pesan yang akan disampaikan melalui tulisannya. Sehingga unsur kebahasaan menjadi aspek inti yang perlu untuk dicermati. Media permainan yang dapat dimanfaatkan antara lain :
a. Apakah kamu tahu (Hal ta’rif)
Guru memberikan soal tertulis dan meminta para siswa-i menjawab pertanyaan tersebut terkait dengan sesuatu atau peristiwa yang aktual. Contoh :
- هل تعرف ماأمامك ؟
- نعم, أمامى كراريس عليهم طلاّب.
b. Ta’bir al-Shuwar
Guru menyiapkan gambar tentang suatu tema. Kemudian ditempelkan dipapan tulis dan guru meminta siswa untuk mengidentifikasi gambar tersebut. Dan pelajaran diakhiri dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan umum dalam penjelasana siswa.[8]






0 komentar:
Posting Komentar